Shalat Jum'at "Pertama" dalam Peradaban Baru Masyarakat Teluk Jambe
Puluhan petani ditangkap dan dipenjara, sedangkan ratusan lainnya terusir dari kampung halaman selama konflik agraria yang terjadi antara masyarakat petani dengan perusahaan sejak tahun 2013 di Teluk Jambe, Karawang. Situasi para petani tersebut masih mengalami penindasan dari beberapa aspek.
Untuk menuju situasi semula, bukan perkara mudah dan waktu yang singkat dalam meraihnya. Mereka membutuhkan dukungan dan pendampingan yang intensif. Sejak mereka melakukan aksi pembelaan dan mengungsi ke Jakarta selama lima bulan. Dan membuka lahan baru menjadi judul pada babak berikutnya dari cerita tersebut.
“Kami saat ini bahkan tak mendapatkan akses listrik dan hanya memanfaatkan air tadah hujan sebagai pemenuh kebutuhan sehari-hari,” ungkap Tejo, Ketua Paguyuban Petani Teluk Jambe.
'Modal’ lahan kosong tanpa fasilitas apa pun, menghampar dan menyambut masyarakat petani yang sudah merasa kelelahan dengan perjuangan mereka dalam konflik tersebut. Ya setidaknya ada angin segar, akan kehidupan baru para petani dan keluarganya. Tercatat sejak Mei 2017 lalu, lahan kosong 'pemberian' pemerintah untuk petani mulai terdengar kabarnya, tak lain untuk relokasi.
Kini, sebanyak 96 Kepala Keluarga dari total sekitar 900 Kepala Keluarga telah menempati lahan baru yang disediakan oleh pemerintah. Namun, meski telah menempati lahan baru, bukan berarti kehidupan nyaman menanti masyarakat setelah konflik tersebut. Sekuat tenaga, bilik-bilik berdinding papan dan terpal mereka bangun. Setidaknya sebagai peneduh dari panas dan hujan. Jadilah kini sekelompok masyarakat yang tengah membangun kembali kehidupannya. Terhitung tiga bulan sudah mereka menempati lahan barunya.
“Gubug sendiri saja kami belum sanggup, apalagi bangun Masjid,” ujar Budi, salah satu warga Teluk Jambe.
Sebagai awal peradaban baru di Teluk Jambe, saat ini, terdapat pembangunan masjid yang diinisiasi oleh Lembaga Dompet Dhuafa sejak Oktober 2017. Keberadaaan masjid ini akan menjadi yang pertama dan sangat dinantikan kehadirannya di tengah kehidupan masyarakat Teluk Jambe.
Dan pada Jum’at (15/12/2017), adzan dikumandangkan dengan haru, juga lantunan doa dan ayat-ayat suci dilafalkan. Sebagian warga Teluk Jambe berdatangan menuju lokasi proses pembangunan masjid pertamanya untuk melaksanakan ibadah shalat Jumat di lokasi tersebut, di atas tanah beralas tikar secukupnya.
Ini akan menjadi shalat Jumat pertama bagi warga Teluk Jambe di lahan baru mereka.
Selain menjadi pusat kegiatan sosial masyarakat, semoga kelak masjid ini akan menjadi penguat religi masyarakat Teluk Jambe, Karawang. Dapat diberdayakan dan dimakmurkan dengan kegiatan pengajian atau pendidikan untuk generasi anak-anak penerusnya. Juga para tokoh agama dapat menjalankan perannya secara maksimal sebagai pendamping program dan pengajar.
Dan mereka tidak ingin masjidnya dinamai Al-Hijroh seperti yang kami usulkan. Mereka memandang maknanya berbeda, takut hijrah (berpindah) terus, trauma terusir lagi.


























